Sosialisasi Gerakan Hidup Sehat dan HIV/AIDS Kementrian Kesehatan RI

Pada tanggal 1 Desember 2016 kemarin yang juga bertepatan dengan hari AIDS sedunia, saya dan beberapa blogger mendapatkan kesempatan dari Kementerian Kesehatan RI untuk mengikuti sosialisasi mengenai isu kesehatan yang ada di Indonesia.

Acara kali ini bertempat di hotel tunjungan Surabaya. Adapun Sosialisasi ini mengambil tema “Menuju Indonesia Sehat” sekaligus untuk memperingati World AIDS Day yang jatuh setiap tanggal 1 Desember. Dengan adanya pertemuan ini diharapkan nantinya para Blogger ikut memberikan edukasi kepada masyarakat tentang isu-isu kesehatan yang di temui di lingkungan tempat tinggal.

Pada sosialisasi kali ini kami mendapatkan pengarahan dari 4 narasumber, yakni dari drg. Oscar Permadi MPN (Biro Komunikasi dan Yanmas Kementrian Kesehatan RI) ; Ansarul Fahruda (Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung,) ; dr. Wiendra Waworuntu, M. Kes (Direktur P2PML Kemenkes RI) ; serta  Farid Hafifi dari Yayasan Mahameru Surabaya

Sosialisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS)

Materi sosialisasi pertama disampaikan oleh drg. Oscar Permadi MPN (Biro Komunikasi dan Yanmas Kementrian Kesehatan RI), beliau membawakan tema tentang gerakan masyarakat hidup sehat ( GERMAS). Germas sendiri Merupakan salah satu program kementrian kesehatan yang memilki tujuan untuk memberikan gambaran pada masyarakat agar berperilaku hidup sehat.

Sosialisasi GERMAS sendiri dilakukan karena  saat ini telah terjadi  perubahan pola penyebaran  penyakit serta munculnya penyakit-penyakit baru yang disebabkan oleh gaya hidup masyarakat. Menurut beliau, saat ini Indonesia tengah menghadapi tantangan serius berupa munculnya trend penyakit tersebut. Gaya hidup yang tidak sehat ditengarai penyebabnya. Cukup menarik bila kita melihat sebuah informasi.

Tahun 1990-an jenis penyakit penyebab kematian terbesar Indonesia  adalah, TBC dan Diare. Sedangkan pada tahun 2010 penyakit penyebab kematian adalah stroke, Jantung dan Diabetes. Perubahan jenis penyakit ini terjadi karena adanya perubahan pola gaya hidup pada masyarakat Indonesia.

Hal ini yang mendasari Kemenkes RI mencanangkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Gaya hidup sangat berperan dalam munculnya penyakit pada manusia. Selain itu sanitasi lingkungan serta pola makanan juga  berpengaruh di dalamnya.

beberapa slide materi sosialisasi tentang germas

Siapa Sasarannya dan Cara Pelaksanaan GERMAS ?

Sarsaran Pelaksanaan Germas dimulai dari lingkup keluarga, yakni dari individu  suatu keluarga , lalu berlanjut ke lingkungan yang lebih besar, hingga harapannya bisa terlaksana seretak seluruh indonesia dengan harapan setiap orang bisa bertanggung jawab atas kesehatannya sendiri. Gerakan Masyarakat Hidup Sehat ini bukan hanya tanggung jawab Kemenkes RI tapi merupakan tanggung jawab seluruh lapisan masyarakatnya.

 Secara sederhana bentuk kegiatan Gerakan Hidup Sehat adalah :

  • Melakukan aktivitas fisik ,olahraga  serta membudayakan untuk aktif berjalan kaki
  • Mengkonsumsi buah dan sayur , serta menjaga pola makan.
  • Tidak merokok
  • Tidak mengkonsumsi alkohol
  • Memeriksakan kesehatan diri secara rutin, minimal 6 bulan sekali untuk mendeteksi dini jika memang terdapat penyakit
  • Membersihkan lingkungan, mulai dari merapikan tempat tidur
  • Menggunakan jamban dalam aktifitas buang air besar dan buang kecil

Adapun efektifitas kegiatan  Germas harus dilakukan secara bersama-sama dengan penuh kesadaran,kemampuan dan kemauan dalam berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup Pada Program ini, masyarakat diharapkan bisa ikut terlibat aktif dalam mewujudkan perilaku sehat sehingga berdampak pada kesehatan  terjaga, menjadi lebih produktif, lingkungan tetap bersih dan lebih penting lagi adalah bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Berlanjut ke pemateri kedua yang di sampaikan oleh Bapak Ansarul Fahruda yang mengambil topik tentang “pengaruh gaya hidup dengan berbagai penyakit“.

Secara umum kita sudah memahami bahwa GERMAS dicanangkan untuk mengatasi masalah pergeseran pola gaya hidup terhadap berbagai penyakit yang muncul dimasyarakat. Dan salah satu penyakit yang secara langsung maupun tidak langsung  menjadi perhatian adalah penyakit HIV AIDS. (hari ini bertepatan dengan #WorldAIDSDay)

Dalam pemaparan beliau, ada suatu info yang cukup menarik yakni

“Jawa Timur tergolong wilayah dengan penderita Virus HIV yang tinggi setara dengan DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan juga Papua. Sekitar 17% diderita oleh Ibu Rumah Tangga. Sedangkan pekerja seksual sekitar 6%. Data tersebut cukup membuat kita khawatir, apalagi saat ini pun sudah ditemukan sejumlah 448 penderitan HIV yang masih anak-anak”.

Bicara tentang penyakit HIV AIDS, hingga kini, penyakit AIDS masih membawa stigma negatif di masyarakat. Hubungan sex dan gonta-ganti pasangan dianggap sebagai pemicu orang terjangkit virus HIV. Padahal tak selamanya pengidap AIDS adalah orang ‘nakal’, bahkan ibu rumah tangga baik-baik pun bisa terjangkit. Karena penyakit ini dapat menular melalui jarum suntik, lewat alat-alat cukur dan semacamnya. Lebih jelasnya, HIV/AIDS dapat menular melalui media darah, hubugan sex, dan ASI (Air Susu Ibu) dan dari ibu ke bayinya melalui proses hamil, melahirkan dan menyusui..

Jika ada masyarakat yang masih beranggapan bahwa Virus HIV AIDS hanya bisa tertular di wilayah transaksi seksual (lokalisasi), anggapan tersebut perlu diluruskan.

Senada dengan yang disampaikan oleh Bapak Ansarul, Ibu dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes, direktur P2PML Kemenkes RI, kembali menjelaskan soal HIV AIDS dalam presentasinya bertajuk Situasi Epidemi HIV/AIDS Nasional Dan Kebijakan Program Pencegahan Pengendalian HIV/AIDS”

Bu Wiendra mengingatkan kembali tentang apa itu HIV dan AIDS serta program penanggulangan yang menjadi tugas pemerintah, dalam hal ini, pihak Kemenkes RI, agar tujuan zero for HIV AIDS (target zero for HIV AIDS pada tahun 2030) benar-benar terwujud. Adapun program TOP yang dimaksud adalah:

  • Temukan ODHA (orang dengan HIV/AIDS)
  • Obati dengan pengobatan sesuai prosedur (antiretroviral-ARV)
  • Pertahankan kualitas hidup ODHA (orang dengan HIV/AIDS)

Perlu diperhatikan bahwa virus HIV AIDS itu tidak menular hanya karena bersentuhan (jabat tangan), berpelukan, saling berbicara, bahkan dari urine maupun keringat. Jadi, sangat keliru ketika kita menghindari ODHA (orang dengan HIV/AIDS) bahkan mengasingkannya. Justru mereka perlu dukungan semangat, motivasi serta kenyamanan perhatian agar mereka tetap ingin bertahan hidup dan berobat secara teratur.

cuplikan materi sosialisasi

Sesi terakhir Kampanye Hari AIDS Sedunia ini menghadirkan Farid Hafifi dari Yayasan Mahameru Surabaya, yayasan yang bergiat dalam pendampingan ODHA (orang dengan HIV/AIDS).

Mas Farid menjelaskan ; sangat tidak mudah jika menjadi seorang pendamping ODHA, karena tanpa dibekali cara yang benar pasien ODHA justru bisa stres dan bahkan marah kepada sang pendamping, Beliau menyebutkan bahwa pendampingan ODHA dilakukan dengan rambu-rambu yang harus diikuti antara lain:

  • Tidak melakukan hubungan seks dengan ODHA
  • Tidak memberikan kesempatan ODHA untuk menginap di rumah pendamping
  • Tidak berbagi obat
  • Tidak menggunakan jarum suntik atau minuman alkohol secara bersama-sama
  • Tidak meminjamkan uang/barang kepada ODHA

Semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, untuk menjalani hidup kedepan lebih indah, sentiasa kita beri dukungan semangat hidup untuk ODHA

Yang terpenting mari kita hilangkan stigma negatif pada odha, dan jangan diskriminasikan mereka. karena belum tentu penyakit yang mereka sandang itu akibat perilaku buruk yang dilakukannya, tetapi justru kebanyakan dari mereka adalah korban.

mari kita cegah dan kendalikan hiv/aids

(moment foto bersama para peserta sosialisasi)

“Mari Kita Berubah, Masa Depan Gemilang Tanpa Penularan HIV”

 

Post Author: achmadfaqih

assalamualaikum salam kenal nama saya achmad faqih saya adalah seorang penulis yang memiliki berbagai hoby dan keterampilan semoga setiap karya tulisan saya bisa bermanfaat untuk pembaca sekalian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *